Selasa, 20 Oktober 2009

UP4 Berdiri Atas Rasa Kepeduilian Sosial

PONTIANAK—Kiprah Unit Pengobatan Paru-Paru (UP4) Kalimantan Barat kini telah semakin maju. Jika dulunya UP4 mendapat julukan sebagai tempat pemberantasan penyakit Tubercolusa (TB), kini sebutannya telah berlaih menjadi rumah menyembuhan bagi para penderita TB. “TB itu dapat di sembuhkan,” kata dr Muherman Harun, pendiri UP4 Kalbar.

Keyakinan akan kesembuhan dari penyakit TB ini disampaikannya kepada para unsur pimpinan serta para medis di UP4 Kalbar, Kamis (15/10) kemarin. Kunjungannya ke UP4 ini terkait dengan nostalgia pendirian UP4, 48 tahun yang silam. Disana, Muherman bertemu kangen dengan empat sahabat dan rekan kerja lamanya. Mereka itu adalah Tamrin, mantan Kepala TU di UP4 Kalbar; M Yusuf, staf administrasi di UP4; Hj Hasyiah selaku perawat dan MTh Kilar selaku perawat.

Dijelaskan, penyakit TB adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mikobakterium tuberkulosa. Bakteri ini berbentuk batang dan bersifat tahan asam sehingga dikenal juga sebagai Batang Tahan Asam (BTA). Seiring dengan kemajuan teknologi pengobatan, TB bisa disembuhkan. Caranya adalah dengan berobat secara teratur minimal enam bulan, di Puskesmas atau di UP4 Kalbar.

“Untuk memastikan seseorang menderita TB atau tidak, diperlukan tindakan diagnosis khusus, seperti anamnesa baik terhadap pasien maupun keluarganya; pemeriksaan fisik; pemeriksaan laboratorium (darah, dahak, cairan otak); pemeriksaan patologi anatomi (PA); rontgen dada (thorax photo) serta uji tuberculin,” terang pria yang lahir di Bogor, 78 tahun yang lalu ini.

Muherman ingat benar ketika UP4 Kalbar pertama kali berdiri. Ketika itu, peralatannya masih sangat sederhana. Di kisahkan, awalnya UP4 dibangun atas sumbangan dari para donatur yang di kumpulkan Komando Daerah Perbatasan (KOPEDASAN). Besaran sumbangan yang diterima kala itu mencapai Rp 61 juta. Oleh Muherman, dana tersebut di gunakan untuk membangun gedung UP4 dan membeli alat kelengkapkan kesehatan. “UP4 dulu didirikan diatas lahan satu hektar di Gang Budiman yang kini dikenal sebagai Jalan K.S. Tubun,” terangnya penuh semangat.

Penjelasan Muherman itu di benarkan oleh Kepala UP4 Kalbar, dr Hj Atiek Sumardianti Soemastro, MPH. Dikatakan olehnya, kondisi bangunan UIP4 Kalbar saat ini terbilang cukup baik, meski di sejumlah ruangan atap dan langit-langitnya bocor. Berdasarkan hasil analisa dari ahli bangunan, beberapa bagian atap banguna sudah banyak yang termakan rayap. “Meski kondisi fisiknya sudah sangat memerlukan pemugaran, namun kami tetap memberikan layanan terbaik kepada pasien,” jelas Atiek.

Berdasarkan laporan tahunan kegiatan UP4 Kalbar, bulan januari samapi dengan Desember 2007 dan 2008, jumlah penderita TB baru di tahun 2007 mencapai 1.318 orang. Angka ini naik beberapa kali lipat menjadi 6.747 orang pada tahun 2008. Untuk penderita TB lama, di tahun 2007 jumlahnya mencapai 3.360 orang. Di tahun 2008, angka ini naik menjadi 4.663 orang. “Total kasus TB yang kami tangani di tahun 2007 adalah 4.678. Jumlah ini melonjak menjadi 11.410 orang pada 2008,” paparnya.(go)

Harga LPG Naik Bertahap

PONTIANAK--- Sales Area Manager PT Pertamina (Persero) Unit Pemasaran VI Pontianak, Ibnu Chouldum, memastikan kenaikan harga LPG (Liquified Petroleum Gas) akan dilakukan secara bertahap. Tindakan ini ditembuh guna menghindari keterkejutan pasar. “Kebijakan ini efektif berlaku sejak 10 Oktober lalu,” katanya.

Untuk LPG kemasan 12 kg, harga barunya kini Rp 7.701 per kilogram atau Rp 92.412 per tabung. Kenaikan harga yang sama juga berlaku untuk LPG kemasan 50 kg, dimana harga barunya kini adalah Rp 9.214 per kilogram atau Rp 460.700 per tabung. Adanya kenaikan harga Rp100 per kilogram ini merupakan dampak dari penyesuaian terhadap kenaikan harga pasar bahan baku LPG.

Dengan diberlakukannya harga baru ini Pertamina berharap dapat memberikan pelayanan yang lebih baik bagi konsumen. Khusus LPG kemasan 3 kg, untuk sementara waktu Pertamina belum melakukan perubahan harga. Kebijakan ini ditempuh karena LPG kemasan 3 kilogram memang di peruntukkan bagi masyarakat yang kurang mampu. “Kami juga ingin menyampaikan seruan moral kepada para konsumen LPG kemasan 12 kilogram untuk tidak beralih ke LPG kemasan 3 kilogram. LPG kemasan 3 kilogram khusus diperuntukkan pemerintah untuk masyarakat miskin,” terangnya.

Meski harga LPG kini naik Rp100 per kilogram, namun sejumlah warga yang di temui Pontianak Post di lapangan mengaku tidak mengetahuinya. Mereka merasa kenaikan harga LPG tersebut tidak berdampak besar terhadap pengeluaran rutinnya. “Jujur saya malah baru tahu sekarang jika harga LPG naik. Kenaikan itu bagi saya tidak terasa sama sekali,” kata Sundari Nilasari, salah seorang ibu rumahtangga.

Tanggapan serupa juga di sampaikan oleh Reni Kusumawati. Perempuan yang kesehariannya berprofesi sebagai guru ini mengaku tidak ada yang berubah saat membeli LPG kemasan 12 kilogram. “Saya hanya bisa berharap agar pemerintah dapat terus mempertahankan strategi positif ini demi menghindari terjadinya gejolak pasar. Dan satu lagi, Pertamina harus menjamin stok LPG di pasaran selalu cukup,” imbuhnya.(go)

Harga Emas Dunia Tidak Berpengaruh Pasar Lokal

Kenaikan harga emas dunia ternyata tidak menunjukkan pergerakan positif terhadap harga emas di pasar local. Idealnya, apabila harga emas di pasar dunia kini diatas 1.050 dolar AS per troy once (1 troy once sama dengan 33,1 gram) maka idealnya harga emas di pasar dalam negeri harus diatas Rp 316.000. “Untuk pasar lokal, harga emas sekarang hanya Rp 313.000 per gram,” terang Pimpinan Perum Pegadaian Cabang Pasar Mawar, Andi Ibrahim.

Masih rendahnya penghargaan emas di level local itu juga di pengaruhi oleh naik-turunnya nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS. Berdasarkan pengalaman yang ada, setiap kali nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika bergeser 100 poin, maka harga emas juga ikut bergeser 3000 per gram. Fluktuasinya harga emas di pasar local tentu saja menjadi perhatian serius dari Pegadaian.

Dikatakan Andi, jika harga emas naik maka secara otomatis nilai taksiran emas di Pegadaian pun akan ikut naik pula. Kondisi yang demikian tentu saja berdampak pada naiknya omset Pegadaian. Selain di hadapkan dengan perubahan nilai tukar rupiah yang berimbas pula pada perubahan harga emas di pasar dunia dan local, Pegadaian juga mendapat tantangan dari munculnya produk-produk perbankan dan lembaga-lembaga penyalur kredit lain.

Persaingan dalam penyaluran kredit untuk Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) sekarang ini terasa begitu kompleks. Selain memberi kemudahan dalam pengurusan kredit, sejumlah perusahaan kredit juga menawarkan bunga angsuran yang kompetitif. “Tantangan bisnis seperti ini mau tidak mau harus kami hadapi. Munculnya pesaing bisnis merupakan cambung bagi kami dalam meningkatkan mutu pelayanan,” terangnya.(go)

Sepenggal Kisah Dibalik Serangan Demam Berdarah Dengue

Demam Itu Mengiringi Kepulangan Cahaya Mataku

Satu persatu korban dari gigitan maut nyamuk Aedes Agepty mulai berjatuhan. Puluhan bahkan mungkin ratusan korbannya kini terbaring lemas tak berdaya di sejumlah rumah sakit. Yang lebih memilukan lagi, beberapa dari mereka meninggal dunia akibat tak kuasa menahan keganasan virus Dengue. Seperti apa kisah dibalik serangan DBD ini, berikut ceritanya.


Catatan Pringgo—Pontianak


SEJAK beberapa hari terakhir ini Anwar Teddy terlihat murung. Pikirannya menerawang jauh ketika mendengar kabar bahwa Demam Berdarah Dengue kini mulai merebak di kota Pontianak. Ingatannya seolah kembali ke peristiwa pilu yang terjadi di pecan pertama, November 2008 silam. Ketika itu almarhum Eka Indriani Putri (10), putri sulungnya, terbaring lemas karena mengalami demam yang cukup tinggi.

Masih segar dalam ingatan Anwar saat pertama kali cahaya matanya mengeluh sakit. Kepada dirinya, almarhum mengatakan bahwa bagian ulu hatinya terasa sakit bukan kepalang. Kepala terasa pusing dan sulit buang air kecil. Selang beberapa jam kemudian, demam tinggi pun menyerang. Mendengar keluhan yang demikian, Anwar bersama istrinya, Lusiyana, berupaya untuk memberi pertolongan pertama dengan membawanya ke dokter.

Setelah menjalani pemeriksaan, dokter pun mengatakan bahwa Eka hanya mengalami demam biasa. Sebelum pulang berobat, dokter berpesan agar segera membawa kembali Eka jika dalam dua atau tiga hari demamnya tidak turun. “Ucapan dokter waktu itu sem-pat membuat hati kami sekeluarga lega. Resep obat yang diberikan dokter pun kami tebus dengan satu harapan, Eka bisa segera sembuh,” tuturnya haru.

Selang dua hari kemudian, kesehatan Eka berangsur pulih. Demam tingginya mulai mereda. Pada satu malam, mendadak Eka mengalami kejang. Khawatir akan keselamatan si buah hati, Anwar pun bergegas membawa Eka untuk berobat. Sayang, usahanya itu tidak berhasil. Dalam perjalanan ke rumah sakit, Eka menghembuskan nafas terakhirnya. Tak ayal lagi, tangis pilu pun langsung membahana. “Kami sekeluarga hanya bisa menangisi kepergian Eka,” ungkap Anwar dengan mata berkaca-kaca.

Sepeninggal putri tercintanya, Anwar sekeluarga merasa sangat kehilangan. Masih terngiang di telinganya tawa canda Eka saat asyik bermain dengan Mahendra dan Riho, dua putranya yang lain. “Saya tak habis pikir, dimana kira-kira Eka terkena gigitan nyamuk demam berdarah. Kalau di rumah, rasanya hampir tidak mungkin. Pasalnya, saya sering menaburkan serbuk abate di tempat penampungan air dan selalu menyalakan racun nyamuk bakar di pagi dan malam hari,” paparnya.

Dilihat dari sifat hidup nyamuk Aedes aegypti yang senang berkembang biak di tempat penampungan air yang bersih, Anwar menduga Eka terkena gigitan nyamuk mematikan itu saat sedang bermain di luar rumah. Di alam terbuka, serangan nyamuk hitam putih itu tentu saja dapat terjadi sewaktu-waktu.

Kuat dugaan, nyamuk elit tersebut berkembang biak secara bebas di tempat penampungan air yang ada di rumah-rumah walet. Maklum, sejak beberapa tahun terakhir pertambahan rumah walet di kota Pontianak terasa sangat pesat. Rumah walet menjadi surganya nyamuk Aedes aegypti karena suhu udara disana lembab, gelap dan terdapat genangan air bersih. “Terlepas dugaan ini benar atau tidak, sepertinya sudah saatnya pemerintah kota Pontianak melakukan penertiban rumah walet,” sarannya.

Selain memberantas jentik dan nyamuk Aedes aegypti yang disinyalir kuat bersarang di rumah walet, Anwar juga menyarankan kepada masyarakat luas untuk aktif melakukan gerakan 3M Plus, yakni menutup wadah penampungan air, mengubur atau membakar barangbarang bekas yang dapat menjadi sarang nyamuk, dan menguras atau mengganti air di penampungan air. Agar lebih sempurna, gunakan racun anti nyamuk oles setiap kali akan beraktivitas di ruangan terbuka. “Jangan lupa, taburkan bubuk abate di setiap tempat penampungan air bersih,” sarannya.(*)

Resettlement Pengungsian Kalimas 1969-2009 (habis)

Berhasil di Kalimas, Liu Liang Kit Enggan Pulang ke Monterado

Liu Liang Kit kini sudah tidak lagi muda. Di usia senjanya, dia telah hidup dengan tenteram di Kalimas. Baginya, Kalimas merupakan surga. Hutan belantara yang dulunya terasa begitu menyeramkan, kini telah berubah menjadi sebuah perkampungan yang amat menyenangkan. Seperti apa perjuangan hidupnya di Resettlement Pengungsian Kalimas?


Catatan Pringgo—Kalimas


MULANYA Liu merasa sedikit enggan untuk berbagi cerita tentang pengalaman hidupnya di kompleks Kasih Kalimas. Dia beranggapan hal itu tidaklah penting untuk di ketahui. Menurutnya, cukup istri dan anak-anak saja yang tahu kisah perjalanan hidupnya di tanah rantau, Kalimas.

Namun semua menjadi lain manakala Dr Muherman Harun dan istri tercintanya datang menemui Lui di Kalimas, Jumat (16/10) lalu. Dengan penuh rasa haru, Liu menyalami tokoh pendiri sekaligus pengagas proyek Kasih Kalimas tersebut. Saat diminta menceritakan kisah hidupnya selama di Kalimas oleh Muherman, Liu pun dengan senang hati mau bercerita.

Dikisahkan, sebelum mengikuti program Kasih Kalimas, Liu muda sempat tinggal selama dua tahun di barak pengungsian di Singkawang. Oleh orangtuanya, Liu diminta untuk melanjutkan sekolah ke Pontianak. Anjuran dari kedua orangtuanya itu ternyata hanya bisa di jalani selama tiga bulan saja. Selebihnya, Liu memilih untuk mengadu nasib di Kalimas. Keputusan yang berani ini dia ambil pada tahun 1970.

Seperti kebanyakan pengungsi Tionghoa lainnya, Liu yang pada saat itu masih hidup membujang berhasil menemukan tambatan hati di Kalimas. Kepada istri tercintanya, Liu berjanji akan memberikan kebahagiaan di tanah penuh harapan, Kalimas. Jalan menuju terwujudnya janji itu ternyata sangat panjang dan berliku. Perjalanan hidup Liu yang semula terasa ringan, kian lama terasa cukup berat. Beban hidup terasa begitu sulit ketika satu persatu cahaya matanya lahir.

“Hati ini terasa sedih jika mengingat masa-masa sulit itu. Ketika anak sakit, saya harus pergi membawanya ke rumah mantri kesehatan yang kala itu jaraknya cukup jauh. Untuk sampai ke sana butuh perjuangan berat. Maklum, akses transportasi yang ada kala itu hanya sampan kayuh,” tutur lelaki asal Monterado ini.

Cobaan yang di hadapi Liu tidak berhenti sampai disitu saja. Ketika musim tanam tiba, ladang pertaniannya sempat terendam air pasang. Bila sudah begini, jadwal tanam pun menjadi tertunda. Bagi kaum tani, kondisi yang demikian jelas merupakan sebuah kerugian yang cukup besar. Agenda tanam yang harusnya bisa dua atau tiga kali tanam dalam setahun, semua berubah. Dalam setahun, terkadang Liu hanya bisa bercocok tanam satu atau dua kali saja.

Belajar dari pengalaman yang ada, Liu pun berupaya mengatur pola tanam dengan lebih memperhatikan factor iklim serta perubahan cuaca. Hasilnya ternyata sangat menggembirakan. Secara bertahap hasil panen padi serta sayur mayur menjadi bertambah banyak. “Kegagalan dalam bercocok tanam di musim lalu ternyata menjadi guru bagi saya. Melalui pola tanam yang terencana, akhirnya saya bisa berhasil,” ungkapnya bahagia.

Kini kehidupan ekonomi Liu telah berubah. Liu yang dulu hidup susah sekarang bisa tersenyum gembira. Anak-anak sekarang telah bisa hidup mandiri. Rumah pemberian pemerintah yang dulunya beratap dan berdinding daun nipah sekarang telah lebih permanent. Jalan aspal yang dulu pernah di impi-impikan sekarang telah terbentang mulus di depan mata. Kebahagiaan hati terasa lebih lengkap manakala layanan listri dari PLN bisa di nikmati oleh warga Kalimas. “Dulu, apabila hendak pergi ke Sungai Jawi, kami harus berkayuh sampai sampai setengah hari lamanya. Keadaan terasa semakin sulit manakala air sungai surut. Bila sudah demikian, kami pun tidak bisa mudik ke kampung,” kenang Liu.

Ketika Dr Muherman Harun menawarkan kepada Liu untuk pulang ke Monterado, kampung halamannya, dengan berat hati Liu pun menolak. Alasannya sangat sederhana, yakni Liu telah jatuh hati dengan Kalimas. Kalau pun Liu berkunjung ke Monterado, disana dia tentu banyak menemui wajah-wajah baru yang tidak di kenalinya. “Lebih baik disini, di Kalimas,” imbuhnya sembari tersenyum.

Resettlement Pengungsian Kalimas 1969-2009 (bagian 2)

Jodoh dan Rejeki Lim Tiam Luk Ada di Kalimas

Siapa yang mengangka jika kompleks proyek Kasih Kalimas sekarang berjalan dengan sukses. Berkat kesabaran serta keuletan dari warganya, Kalimas telah di ubah menjadi kali atau sungai emas. Salah seorang warga yang berhasil mewujudkan impian hidupnya di proyek Kasih Kalimas itu adalah Lim Tiam Luk (60). Lelaki paruh baya ini mengaku menemukan jodoh dan rejekinya di Kalimas. Seperti apa kisah hidupnya?


Catatan Pringgo—Kalimas.


USIA boleh bertambah tua. Rambut pun bisa saja memutih. Tapi yang namanya semangat juang, sampai kapan pun tidak pernah surut. Tekad baja ini menjadi penyemangat hidup bagi Lim Tiam Luk. Lekaki yang kesehariannya bekerja sebagai petani ini dulunya merupakan warga Roban, Singkawang.

Lim ingat betul, saat orangtuanya memilih untuk ikut program resettlement ke Kalimas. Kala itu Lim masih berusia 18 tahun. Bersama 7 saudaranya, Lim terpaksa meninggalkan kampung halaman demi satu alasan, yakni ingin tetap hidup selamat. “Bagi saya awal era tahun 70-an merupakan masa-masa sulit. Saya beserta seluruh anggota keluarga lainnya pergi meninggalkan Roban dengan hanya berbekal baju di badan,” terangnya.

Setibanya di Kalimas, Lim muda sempat merasa ciut nyalinya. Kalimas yang dibayangkan ternyata tidak sesuai harapan. Sepanjang mata memandang, yang terlihat kala itu hanya hamparan hutan belantara. Suasana di sepanjang sungai, menuju Kalimas waktu itu terasa begitu menakutkan. Warna airnya hitam kecoklatan.

Setelah beberapa hari beradap tasi, akhirnya keluarga Lim mendapat kepercayaan dari pemerintah untuk mengolah lahan pertanian seluas satu hektar. Sebagai anak seorang petani, Lim tentu saja tidak tinggal diam melihat orangtuanya membanting tulang dalam mengolah lahan. Dengan tenaga yang di miliki, Lim mencoba mengadu peruntungan dengan alam.

Kerja keras Lim dalam mengolah lahan pertanian ini ternyata mengundang kekaguman tersendiri dari Sui Ngo. Dalam berbagai kesempatan, gadis belia itu kerap menemui Lim. Kehadiran dara manis itu tentu saja menjadi penyemangat bagi Lim. Seiring berjalannya waktu, Lim pun membranikan diri untuk melamar Sui. Lamaran Lim ternyata di sambut baik oleh orangtua Sui. Selang beberapa hari kemudian, pesta pernikahan antara Lim dan Sui pun di gelar. “Hati ini terasa sangat bahagia sekali. Rasanya seperti mimpi bisa menemukan jodoh di Kalimas,” ungkap Lim tersenyum.

Layaknya pasangan pengantin baru, Lim dan Sui pun menikmati masa-masa manis. Tapi sayang, hal itu tidak berlangsung lama. Mau tidak mau pasangan muda ini harus menghadapi tantangan hidup yang keras di Kalimas. Berbekal jatah beras dan bulgur yang diperoleh selama setahun, perlengkapan pertanian dan bibit padi dan sayur mayur, Lim berupaya keras mengubah belantara hutan menjadi ladang berlian.

Upaya L:im dalam mewujudkan impian itu ternyata tidaklah mudah. Menjelang masa panen sayur mayur tiba, ladang pertaniannya sempat di serang oleh segerombol kera hutan. Tnpa rasa takut, kera-kera liar itu memakan hasil pertanian milik Lim. Untuk mengusir kera-kera tersebut, Lim dan Sui mencoba untuk memukul-mukulkan kayu ke tanah. “Sampai sekarang kayu bekas mengusir kera itu masih kami simpan di rumah. Kayu itu sengaja kami simpan untuk kenang-kenangan,” imbuh Lim.

Tahun-tahun sulit kini telah berhasil dilalui Lim dengan penuh suka dan duka. Secara perlahan namun pasti kehidupan ekonomi keluarga Lim mulai membaik. Anak-anak tercinta kini telah berhasil menjadi orang yang mapan. Setiap bulan, anak-anak selalu memberi bantuan kepadanya. “Kini saya merasa amat bahagia. Dihari tua ini, saya tinggal menikmati buah dari hasil kerja keras di masa muda. Terimakasih kami ucapkan kepada dr Muherman Harun yang telah membuka program resettlement pengungsian Kalimas, 40 tahun yang silam,” ungkapnya penuh haru.

Resettlement Pengungsian Kalimas 1969-2009 (bagian 1)

Menggapai Asa di Rerimbunan Hutan Nipah

Kondisi resettlement pengungsian di Desa Kalimas, Kecamatan Seungai Kakap kini telah maju pesat. Berbeda dengan kedaan 40 tahun yang silam. Kala itu kawasan tersebut merupakan hutan nipah yang amat lebat. Lokasinya amat terpencil, jauh dari hangar bingar kota. Seperti apa kisah penghuni kawasan Kasih Kalimas ini?


Catatan Pringgo—Kalimas


SETELAH setengah jam menyusuri jalan raya Pontianak-Sungai Kakap, akhirnya mobil dinas milik Unit Pengobatan Paru-Paru (UP4) Kalimantan Barat yang kami tumpangi tiba di Pasar Desa Kalimas. Turut serta dalam rombongan kecil ini, pendiri UP4 Kalbar, dr Muherman Harun berserta istri; mantan Direktur RSUD Soedarso Pontianak, dr JK Sinyor MQIH beserta istri, Kepala TU UP4 Kalbar, Hamdi S. Bafiroes SH.MKes serta saya sendiri, wartawan Pontianak Post.

Saat tiba di Pasar Kalimas, rombongan kami sempat ragu akan kebenaran tempat yang akan di tuju. Maklum, Desa Kalimas yang sekarang terlihat jauh lebih maju. Kepada salah seorang warga, Muherman bertanya tentang alamat kediaman dari salah seorang sahabatnya yang bernama Ahui. Ahui merupakan warga pengungsian resettlement di Kalimas. “Bapak belok kanan saja. Jalan saja lurus. Begitu ketemu jembatan kayu, langsung belok kiri. Rumahnya persis ujung sebelah kiri dari jembatan tersebut,” jelas wanita paruh baya itu dengan nada ramah.

Karena merasa belum paham penar dengan informasi yang di peroleh, dr Sinyor pun mencoba menghubungi Ahui, lewat telpon selularnya. Kepada Ahui, dia menginformasikan bahwa rombongan telah tiba di Pasar Kalimas. Mendapat kabar yang demikian, Ahui yang berada di ujung telpon sana menjawab “baik, sebentar saya datang menyusul”.

Tidak seberapa lama yang tinanti pun tiba. Ahui datang dengan mengendarai Vario biru yang terlihat masih baru. Setelah sejenak berbincang, rombongan kami pun membuntuti laju sepeda motor Ahui. Tak sampai lima belas menin kemudian, kami pun tiba di kediaman Ahui. Disana, beberapa warga Tionghoa yang usinya sudah tidak lagi muda terlihat menanti kedatangan kami. “Perkenalkan, ini dr Muherman Harun, pendiri dan penggagas proyek Kasih Kalimas,” terang Ahui memperkenalkan.

Dengan penuh rasa hormat, rombongan pun di persilahkan masuk. Kepada seluruh tamu dan undangan, Ahui menjelaskan bahwa keberadaan para pengungsian di Kalimas telah memasuki tahun ke-40. Berdasarkan catatan yang ada, penempatan tahap pertama warga Tionghoa ke kawasan Kalimas ini berlangsung pada tahun 1969-1970.

Kala itu, penempatan pengungsian gelombang pertama di sebut proyek A, dengan jumlah 68 kepala keluarga. Pada tahun 1972, proyek B kembali digelar dengan menempatkan 52 kepala keluarga. Khusus untuk pelaksanaan proyek C, jumlah pengungsi warga Tionghoa mulai di kurangi hingga tinggal 25 persen, selebihnya adalah warga suku Bali, Jawa, Bungis, Melayu, Dayak serta Batak. Jumlah mereka yang ditempatkan di Kalimas kala itu mencapai 152 kepala keluarga. Pola yang sama juga di terapkan dalam pelaksanaan proyek D, di tahun 1979, dengan jumlah warga 65 kepala keluarga.

“Karena kawasan Kasih Kalimas telah padat dengan warga pengungsian, akhirnya pemerintah mengeluarkan kebijakan baru, yakni menempatkan pengungsi ke Sungai Punggur. Kegiatan ini terkenal dengan sebutan proyek Kasih 2,” jelas Ahui.

Di Sungai Punggur, sekarang bernama Desa Punggur, pada tahun 1981 jumlah pengungsi yang di tempatkan disana mencapai 820 kepala keluarga. Angka ini perlahan di kurangi menjadi 400 kepala keluarga pada penempatan tahun 1982-1987. Seiring dengan perjalananan waktu, kawasan Kasih Kalimas menjelma menjadi sebuah desa yang padat akan penduduk. Sebagaimana diungkapkan Sekdes Kalimas, Sudirman, saat ini jumlah dusun di Desa Kalimas ada lima, yakni Dusun Beringin, Dusun Cempaka, Dusun Mawar, Dusun Melati dan Dusun Anggrek. “Nah, lokasi pengungsian warga Tionghoa berpusat di Dusun Beringin,” terangnya.

Berdasarkan data statistik kependudukan yang ada di Desa Kalimas, kata Sudirman, mayoritas penduduk di desanya bermata pencaharian sebagai petani. Tak mengherankan apabila desa Kalimas terkenal sebagai salah satu sentra padi dan sayur mayur di Kecamatan Sungai Kakap.

Untuk bisa hidup layak seperti saat ini, semua warga Desa Kalimas, khususnya warga pengungsi Tionghoa harus bekerja keras dalam membuka dan mengolah lahan pertanian. seperti di kisahkan Ahui, ketika pertama kali datang ke kawasan Kasih Kalimas, yang pertama kali dilihatnya adalah rerimbunan hutan nipah. Lokasi tempat mereka tinggal di kelilingi oleh sungai yang lebar dan panjang berliku. “Saya ingat benar, kala itu sampan adalah satu-satunya alat transportasi yang paling efektif. Waktu itu jalan darat sangat sulit dilalui. Tidak seperti sekarang,” kenangnya.

Untuk memulai hidup baru, Ahui sekeluarga harus rela mendiami rumah berukuran 4x6 meter. Rumah sangat sederhana itu dinding dan atapnya terbuat dari daun nipah yang dianyam. Hanya dinding depan rumah saja yang terbuat dari papan semperan. Sebagai modal awal, dia dan seluruh keluarga di pengungsian Kalimas di beri jatah hidup oleh pemerintah selama satu tahun penuh. Tidak hanya itu saja, setiap kepala keluarga menerima perabotan masak memasak, peralatan berkebun, serta sejumlah bibit padi dan sayuran mayur. “Kalau ingat masa-masa sulit seperti itu, hati kami menjadi sedih. Dalam keterbatasan yang ada, kesabaran kami benar-benar di uji oleh Tuhan Yang Maha Esa,” ungkapnya penuh rasa haru.(bersambung)