Senin, 19 Maret 2012

Lukisan 3D dari Kulit Batang Pohon Pisang


KREATIFITAS dalam berseni memang tidak mengenal media pengaktualisasian diri. Tidak seperti pelukis kebanyakan yang kerap menggunakan kanvas dan cat minyak atau air sebagai media seninya, Irwen (32) lebih memilih kulit batang pisang atau debog sebagai media seni. Di tangannya, kulit batang pohon pisang yang sebelumnya telah di keringkan itu di rangka sedemikian rupa menjadi sebuah lukiasan 3D yang indah dan mengangumkan.

Ide kreatif ini menurut lelaki yang akrab disapa Eeng ini lahir secara tidak disengaja saat dirinya tengah berjalan-jalan di Pasar Mempawah. Ketika itu, Eeng melihat banyak tumpukan kulit batang pohon pisang yang di buang percuma. Insting seninya langsung bekerja. Tanpa merasa malu, dia langsung membawa pulang sejumlah kulit batang pisang kering tersebut.

Sedampainya di rumah, pemuda kreatif ini langsung mengambil gunting, pisau kater, lem, serta kanvas lukis yang sebelumnya telh di bingkai. Dengan penuh kesabaran, satu persatu lembar kulit batang pohon pisang di potong dengan berbagai ukuran. Imajinasi Eeng terus bermain manakala melihat ragam tekstur serat kulit batang pohon pisang yang beragam.

Tidak puas dengan mengeksploitasi kulit batang pohon pisang kering, Eeng pun mencoba untuk memadupadankan dengan kulit jagung kering serta ranting pohon kering. Setelah beberapa lama akhirnya sebuah lukisan pemandangan 3D tercipta. “Ide pembuatan lukisan ini hadir bengitu saja dari alam imajinasi saya. Semuanya mengalir apa adanya,” ungkap seniman asal Kecamatan Mempawah Hilir ini.

Sukses membuat karya seni dari kulit batang pohon pisang kering itu ternyata berbuah manis. Sejumlah pesanan dari para penikmat seni mulai berdatangan. Tidak hanya dari kota Mempawah, tetapi juga datang dari sejumlah kabupaten/kota di Kalbar. Karyanya semakin mendapat tempat di hati para penikmat seni manakala Eeng unjuk kebolehan di ajang pameran produk Dekranasda Kabupaten Pontianak, Sabtu (14/1) lalu di Reuni Akbar APDN/STPDN/IPDN se-Kalbar, di Taman Wisata Pantai Kijing.

Bagi para penikmat seni yang ingin memilki karya lukisan 3D dari kulit pohon pisang buatan Eeng, pemesanan dapat dilakukan dengan mengubungi Dekranasda Kabupaten Pontianak, Jalan Daeng Manambon, Mempawah atau menghubungi nomor Hp 081256796411. (pringgo/hms)

Selasa, 13 Juli 2010

Menelisik Sejarah Motif Kain Awan Berarak Kabupaten Pontianak

Kain bermotif “Awan Berarak” merupakan kain khas kabupaten Pontianak. Kain ini pertama kali di popularkan kepada masyarakat luas pada tahun 2003 lalu, di acara pagelaran Seni Budaya III Kabupaten Pontianak. Terangkatnya pamor kain bermotif awan berarak ini tidak lepas dari peran serta aktif dari Ketua Dekranasda Kabupaten Pontianak, yang pada waktu itu dijabat oleh Ny Angela Kimha.

Sebelum terkenal seperti saat ini , kain bermotif awan berarak dulunya dikenakan oleh kaum kerabat Keraton Amantubillah Mempawah. Kain bermotifv awan berarak biasanya selalu di kenakan dalam acara-acara besar kerajaan. Salah seorang kerabat Kerajaan Amantubillah Mempawah yang masih menyimpan kain bermotif awan berarak tempo dulu adalah Encik Maryam. Usia perempuan berdarah bangsawan ini kini mencapai lebih dari 100 tahun.

Kain bercorak awan berarak tersebut dibuat dengan cara di tenun, dengan menggunakan benang sutera. Kain itu berbentuk sarung, dengan motif awan yang berarak-arak. Karena sifat awan yang bearada di atas langit dan berarak-arakan, maka oleh pihak Kerajaan Amantubilah Mempwah kain ini khusus di peruntukkan oleh para kerabat pembesar kerajaan. Encik Maryam sendiri memperoleh kain tenun bercorak awan berarak saat dirinya di lamar oleh suaminya, Daeng Abdullah.

Seiring dengan perkembangan jaman, kain bermotif awan berarak ini kini telah dipergunakan oleh masyarakat kabupaten Pontianak pada khususnya, dan Kalimantan Barat pada umumnya. Guna lebih mempopularkan kain bermotif awan berarak, seluruh pegawai negeri di lingkungan Pemerintah Kabupaten Pontianak kini telah memilih busana berbahan kain awan berarak sebagai salah satu busana kerja.

Pemasyarakatan kain bermotif awan berarak ini juga giat dilakukan oleh Ketua Dekranasda Kabupaten Pontianak yang baru, Ny Hj Erlina Ria Norsan. Di bawah kepemimpinannya, motif kain bercorak awan berarak kini telah digunakan sebagai salah satu seragam sekolah, baik di tingkat SD, SMP serta SMA. Melalui daya kreasi yang tinggi, motif awan berarak pun kini telah banyak mengalami perkembangan. Dan jika tidak ada halangan, dalam waktu dekat ini DEkranasda Kabupaten Pontianak akan menghadirkan batik awan berarak. Bagi yang berminat ingin mengoleksi motif kain awan berarak, silahkan singgah ke Sekretariat Dekranasda Kabupaten Pontianak, Jalan Daeng Manambon, Mempawah. (PRINGGO)

Rabu, 23 Juni 2010

Kondom Dari Masa ke Masa

Dari catatan sejarah, kondom telah digunakan sejak beberapa ratus tahun lalu. Sekitar tahun 1000 sebelum Masehi orang Mesir kuno menggunakan linen sebagai sarung penganan untuk mencegah penyakit.

Pada tahun 100 sampai tahun 200 Masehi bukti awal dari pemakaian kondom di Eropa datang dari lukisan berupa pemandangan gua di Combrelles, Prancis.

Tahun 1500-an untuk pertama kali dipublikasikan deskripsi dan pencobaan alat mencegah penyakit berupa kondom di Italia. Ketika itu Gabrielle Fallopius mengklaim menemukan sarung terbuat dari bahan linen dan itu diuji coba pada 1.100 lelaki sebagai kondom. Dari percobaan itu tak satu pun dari mereka yang terinfeksi penyakit sifilis. Penemuan membuktikan bahwa kain linen itu bermanfaat mencegah infeksi. Tetapi, di kemudian hari kondom dikenal sebagai alat mencegah kehamilan. Itu diawali dari percobaan terhadap kain linen yang dibasahi dengan cairan kimia tahun 1500-an. Ketika linen direndam dalam cairan kimia kemudian dikeringkan dan dikenakan pria maka kain itu bisa mematikan sperma.
Tahun 1700-an, kondom dibuat dari usus binatang. Perubahan bahan itu membuat harga kondom menjadi lebih mahal dibanding dengan kondom dari bahan linen. Ketika itu kondom dikenal sebagai ‘baju baja melawan kesenangan dan jaring laba-laba mencegah infeksi.’ Kondom tipe itu dipakai secara berulang.

Tahun 1894, Goodyear dan Hancock mulai memproduksi kondom secara massal terbuat dari karat yang divulkanisasi untuk membalikkan karet kasar ke elastisitas yang kuat. Tahun 1861 untuk pertama kali kondom dipublikasikan di Amerika Serikat di surat kabar The New York Times. Tahun 1880 kondom dibuat dari lateks, tetapi pemakaiannya secara luas baru tahun 1930-an.

Tahun 1935 sebanyak 1.5 juta kondom diproduksi setiap hari di Amerika Serikat.

Kemudian tahun 1980-an dan 1990-an pasaran kondom di Amerika Serikat didominasi pabrik kondom setempat. Baru tahun 1987 kondom produksi Jepang dengan merek Kimono memasuki pasar Amerika. Kondom tersebut lembut tipis dan iklannya pun menekankankan bahwa kesenangan sama pentingnya dengan pencegahan.

Tahun 1990-an muncul beragam jenis kondom dan juga untuk pertama kali tersedia kondom polyurethane. Tahun 1993 produksi tahunan kondom lateks mencapai 8,5juta miliar. (http://benbodo.blogdetik.com/2008/05/09/sejarah-kondom/)





Selasa, 22 Juni 2010

Sejarah Kondom


Kini kondom selain untuk mencegah kehamilan, berfungsi untuk mencegah penularan penyakit kelamin atau penyakit HIV / AIDS. Bagaimana awal mula ditemukannya kondom?
Belum jelas dari mana kata 'kondom' berasal. Ada yang menduga, kata kondom berasal dari:
- sebuah kota bernama Condom yang terletak di provinsi Gascony, sebelah Barat Daya Perancis. Pria-pria di kota ini terkenal dengan sifatnya yang menyukai seks, kurang sabar dan gampang marah.
- Dr. Condom, seorang dokter dari Inggris yang bergelar Pangeran. Pertengahan tahun 1600 mula-mula mengenalkan corong untuk menutupi penis untuk melindungi Charles II dari penularan penyakit kelamin.

Sejarah menunjukkan:

- Orang-orang Roma, mungkin juga Mesir menggunakan kulit tipis dari kandung kemih dan usus binatang sebagai "sarung". Kondom primitif ini digunakan bukan untuk mencegah kehamilan, tapi menghindari penyakit kelamin.
- Gabriello Fallopi, dokter dari Italia (hidup pada abad ke-17 yang pertama kali menjelaskan dua tabung pipih yang membawa sel telur dari ovarium ke uterus. Ia dikenal sebagai bapak kondom, karena pada pertengahan tahun 1500 ia membuat sarung linen yang berukuran pas (fit) di bagian penis dan melindungi permukaan kulit.
- Kondom di abad 17 berbentuk tebal dan dibuat dari usus binatang seperti ikan atau bahan linen yang licin. Namun kondom dianggab mengurangi kenikmatan seksual dan tidak selalu manjur mencegah penularan penyakit.
- Beberapa bahan dicoba untuk membuat kondom:
. Kondom karet: muncul di tahun 1870. Pada masa itu, kondom karet sangat mahal dan tebal. Para penggunanya disarankan untuk mencucinya sebelum dan setelah hubungan seksual. Pemakaian boleh sampai karetnya bocor atau pecah.
. Kondom latex: Jauh lebih tipis, steril. Mulai diperkenalkan tahun 1930-an. Beberapa kondompun didesain dalam bentuk lonjong dan efek menggelitik untuk kepuasan wanita. Kondom generasi ini sudah memiliki tudung atau menampung sperma sehingga lebih nyaman bagi pria dan aman untuk wanita.
. Kondom polyuretan: Kondom versi terakhr, bahannya lebih tipis dari latex, lebih kedapdan anti bocor serta memiliki pelumas. Kondom baru ini dianggap ideal untuk pria dan aman untuk wanita yang alergi terhadap latex.
Meskipun Anda pemakai kondom, saya yakin tidak semua dari Anda memikirkan riwayat kondom hingga seperti sekarang ini!
Diterbitkan di Kompas: April 04, 2010

Cool......