Rabu, 28 Maret 2012
Balasdendam Sang Bima
Werkudara melihat anaknya, Gatutkaca gugur di Tegal Kurusetra menjadi marah. Werkudara menyapu para Kurawa dengan gada Rujakpolonya. Banyak korban berjatuhan. Akhirnya Werkudara mendapatkan Dursasana dalam posisi sudah terpojok. Dursasana adalah pendamping Senapati Adipati Karna. Werkudara dan Dursasana berkelahi habis-habisan.
Werkudara teringat waktu Perang dadu. Yaitu tantangan Kurawa bermain judi kepada Pandawa, namun dengan kecurangan Patih Sengkuni maka semua harta benda, Istana sampai dengan Dewi Drupadi menjadi taruhan. Sampai Pandawa menjadi budak. Harus melepaskan seluruh pakaian kerajaan. Sedangkan Dursasana belum puas dengan itu, masih berbuat kurang ajar. Ia menjambak rambut Dewi Drupadi dan menyeret Dewi Drupadi ketengah tengah jkerumunan Kurawa sampai sanggulnya lepas, dan Dursasana berusaha menelanjangi Dewi Drupadi.
Para Pandawa yang telah menjadi budak tidak bisa berbuat apa-apa, mereka tidak bisa menolong Dewi Drupadi.Namun atas pertolongan Sanghyang Wisnu, maka setiap lapis kain yang lepas selalu diganti , sehingga Dursasana sampai bercucuran keringat ketika melepas kain Dewi Drupadi. Pakaian Drupadi sudah menumpuk, namun kain yang dibadan Dewi Drupadi tidak pernah habis.
Disinilah Dewi Drupadi bersumpah, bahwa selama hidupnya tidak akan menyanggul rambutnya, sebelum keramas dengan darah Dursasana Sedangkan Werkudara bersumpah untuk membunuh Dursasana dan menghirup darahnya.Ahirnya Werkudara dengan kekuatan amarah, bagai serigala hutan, memukul Dursasana dengan Gada Rujakpolo. Berkali kali dihantamkannya Gada Rujakpala ke tubuh dan kepala Dursasana, sehingga tubuh dan kepalanya hancur. Werkudara menghirup darah Dursasana untuk memenuhi sumpahnya.
Setelah itu dengan sebuah topi baja prajurit,yang tergeletak didekatnya, Werkudara mengambilnya, untuk dijadikan sebagai bokornya, untuk menampung darah Dursasana dan dibawanya pergi menjumpai Dewi Drupadi yang sedang menunggu di perkemahan Tegal Kurusetra. Werkudara memberikan bokor berisi darah Dursasana kepada Dewi Drupadi. Dewi Drupadi segera membasuh rambutnya dengan darah Dursasana, maka Dewi Drupadi telah memenuhi sumpahnya. Dewi Drupadi berterima kasih kepada Werkudara.
Gatotkaca Gugur
Setelah burisrawa gugur, kurawa mengangkat adipati karna dari awangga sebagai senopati. Hari sudah gelap, sang surya sudah lama meninggalkan jejak sinarannya di ladang Kurusetra. Harusnya perang dihentikan, masing – masing pihak beristirahat dan mengatur strategi untuk perang esok hari. Namun entah mengapa Kurawa mengirim senopati malam – malam begini.
Adipati Awonggo ngamuk punggung menerabas dan menghancurkan perkemahan pasukan Pandawa di garda depan. Penjaga perkemahan kalang kabut tidak kuasa menandingi krida Sang Adipati Karno. Secepat kilat berita ini terdengar di perkemahan Pandawa Mandalayuda. Sri Kresna tahu apa yang harus dilakukan. Dipanggilnya Raja Pringgondani Raden Haryo Gatotkaca, putra kinasih Raden Brataseno dari Ibu Dewi Arimbi. Disamping Sri Kresna, Raden Brataseno berdiri layaknya Gunung memperhatikan dengan seksama dan waspada pembicaraan Sri Kresna dengan putranya.
”Anakku tersayang Gatotkaca….Saat ini Kurawa mengirimkan senopati nya di tengah malam seperti ini. Rasanya hanya kamu ngger yang bisa menandingi senopati Hastina di malam gelap gulita seperti ini”
”Waduh, wo prabu…..terimakasih Wo. Yang saya tunggu – tunggu akhirnya sampai juga kali ini. Wo prabu, sejak hari pertama perang baratayuda saya menunggu perintah wo prabu untuk maju ke medan perang. Wo prabu Kresna, hamba mohon do’a restu pamit perang. Wo hamba titipkan istri dan anak kami Danurwindo. Hamba berangkat wo, Rama Wrekudara mohon pamit….”
“Waaa………Gatot iya…..“
Sekejap Gatotkaca tidak terlihat. Sri Kresna merasakan bahwa inilah saatnya Gatotkaca mati sebagai pahlawan perang Pandawa. Dia tidak mau merusak suasana hati adik – adiknya Pandawa dengan mengutarakan apa yang dirasakannya dengan jujur. Namun perasaan wisnu nya mengatakan Wrekudara harus disiapkan untuk menerima kenyataan yang mungkin akan memilukannya nanti.
“Wrekudoro…“
“Kresna kakangku, iya ….“
“Aku kok agak merasa aneh dengan cara pamitan Gatotkaca, mengapa harus menitipkan istri anaknya ??“
“Wah…Kakang seperti anak kecil. Orang berperang itu kalau nggak hidup ya mati. Ya sudah itulah anakku Gatotkaca, dia mengerti tugas dan akibatnya selaku satria.“
“Oo..begitu ya, ya sudah kalau begitu. Kita sama – sama doakan mudah-2an yang terbaik yang akan diperoleh anakmu Gatotkaca.“.
Sebenarnya Kresna hanya mengukur kedalaman hati dan kesiapan Wrekudara saja. Paling tidak untuk saat ini, Wrekudara terlihat sangat siap dengan apapun yang terjadi.
Malam gelap gulita, namun di angkasa ladang Kurusetra kilatan ribuan nyala obor menerangi bawana. Nyala obor dari ribuan prajurit dua belah pihak yang saling hantam gada, saling sabet pedang, saling lempar tombak, saling kelebat kelewang dan hujan anak panah. Gatotkaca mengerahkan semua kesaktian yang dimilikinya. Dikenakannya Kutang Antakusuma, dipasangnya terompah basunanda, dikeluarkan segala tenaga yang dimilikinya. Terbang mengangkasa layaknya burung nazar mengincar mangsa. Sesekali berkelebat menukik merendah menyambar buruannya. Sekali sambar pululan prajurit Hastina menggelepar tanpa daya disertai terpisahnya kepala – kepala mereka dari gembungnya.
Semenjak lahir, Gatotkaca sudah menunjukkan tanda-tanda kedidgyaannya. Ari – arinya berminggu – minggu tidak bisa diputus dengan senjata tajam apapun. Kuku pancanaka Wrekudara mental, Keris Pulanggeni Arjuna tiada arti, Semua senjata Amarta sudah pula dicobai. Namun ari – ari sang jabang bayi seperti bertambah alot seiring bertambahnya usia si jabang bayi. Para pinisepuh Amarta termasuk Sri Kresna pun kehabisan reka daya bagaimana menolong Sang jabang bayi Dewi Arimbi ini.
Maka lelaki kekasih Dewata – Sang Paman Raden Arjuna – menyingkirkan sejenak dari hiruk piruk dan kepanikan di Kesatrian Pringgondani. Atas saran Sri Kresna, Raden Arjuna menepi. Semedi memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar kiranya memberikan kemurahannya untuk menolong Pandawa mengatasi kesulitan ini.
Di Kayangan Suralaya, permintaan Arjuna didengar oleh para dewa. Bethara Guru mengutus Bethara Narada untuk memberikan senjata pemotong ari – ari berupa keris Kunta Wijayandanu. Bethara Narada turun dengan membawa senjata Kunta bermaksud menemi Arjuna yang kala itu diiringi oleh para punakawan, abdi tersayang.
Sahdan di tempat lain, Adipati Karno sedang mengadu kepada Ayahnya Dewa Surya, dewanya Matahari. Adipati Karno, memohon welas asih kepada Sang Ayah untuk memberikan kepadanya senjata andalan guna menghadapi perang besar nanti. Dewa Surya menyarankan anaknya untuk merampok Senjata Kunta dari Bethara Narada. Karno dan Arjuna adalah saudara seibu yang wajah dan perawakkanya sangat mirip melebihi saudara kembar. Hanya suara saja yang membedakan keduanya. Maka ketika Adipati Karno dirias oleh Dewa Surya menyerupai Arjuna, Bathara Narada tidak akan mengenal Adipati Karno lagi melainkan Arjuna.
Kelicikan Dewa Surya tidak cukup di situ. Siang yang terik dan terang benderang itu tiba – tiba meredup seolah menjelang malam. Dengan upaya dan rekayasanya, terjadilah gerhana surya. Narada, dewa yang sudah tuwa dengan wajah yang selalu mendongak ke atas itu, semakin rabun karena gerhana ini.
Adipati Karno mencegat Bethara Narada, tanpa perasaan curiga diberikannya senjata Kunta kepada ”Arjuna”. Merasa tugas selesai Narada berniat kembali ke Kahyangan. Ternyata masih ditemuinya Arjuna lagi yang kali ini tidak sendiri melainkan diiring para punakawan. Sadar Narada tertipu, diperintahkannya Arjuna untuk merebut senjata kunta dari Sang Adipati Karno. Perang tanding tak bisa dielakkan, namun hanya warangka senjata yang dapat direbut oleh Arjuna dari kakak tertuanya itu. Dengan warangka senjata itulah ari – ari jabang bayi arimbi yang kelak bernama Raden Gatotokaca dapat diputus. Keanehan terjadi ketika sesaat setelah ari – ari jabang bayi diputus, seketika warangka hilang dan menyatu ke badan si jabang bayi.
Sekarang, saat perang besar terjadi takdir itu sudah sampai waktunya. Senjata Kunta mencari warangkanya, di tubuh Raden Gatotkaca. Tidak berarti sesakti apapun Gatotkaca, setajam pisau cukur tangannya memancung leher musuhnya. Konon pula otot gatotkaca sekuat kawat tembaga, tulangnya sealot besi tempa. Kesaktiannya ditempa di Kawah Candradimuka. Namun garis tangan Gatotkaca hanyalah sampai di sini.
Di gerbang yang memisahkan antara alam fana dengan alam baka, sukma Kalabendono, paman yang sangat menyawangi Gatotkaca menunggu “sowan ke pengayunan yang Maha Pemberi Hidup”. Begitu sayangnya Kalabendono kepada keponakannya, sukmanya berjanji tidak akan kembali ke asal kehidupan jika tidak bersama sang keponakan.
Di sisi seberang ladang pertempuran, Karno telah siap dengan busur panahnya dengan anak panah Kunta Wijayandanu. Dalam hatinya berbisik “Anakku bocah bagus, belum pupus bekas ari – arimu….berani – beraninya kamu menghadapi uwakmu ini. Bukan kamu yang aku tungggu ngger…Arjuna mana? Ya ya ..sama – sama menjalani darma satria, ayo aku antarkan kepergian syahidmu dengan Kunta Wijayandanu”.
Gatotkaca, mata elangnya sangat tajam melihat gerak – gerik seekor tikus yang baru keluar dari sarangnya. Pun meski dia melihatnya dari jarak ribuan tombak diatas liang tikus itu. Begitu pula, dia tahu apa yang sedang dilakukan Sang Adipati Karno. Dia tahu riwayatnya, dia tahu bahwa warangka senjata Kunta ada di tubuhnya dan menyokong kekuatannya selama ini. Dicobanya mengulur takdir. Dia terbang diantara awan – awan yang gelap menggantung nun di atas sana. Dicobanya menyembunyikan tubuhnya diantara gelapnya awan yang berarak – arakan di birunya langit.
Namun takdir kematian sama sekali bukan di tangan makhluk fana seperti dia. Takdir itu sejengkal pun tidak mungkin dipercepat atau ditunda. Sudah waktunya Gatotkaca, sampai di sini pengabdian kesatriaanmu. Kunta Wijayandanu dilepaskan dari busurnya oleh Adipati Karno. Di jagad ini hanya Arjuna yang mampu menyamai keahlian dan ketepatan Basukarno dalam mengolah dan mengarahkan anak panah dari busurnya. Kuntawijandanu melesat secepat kilat ke angkasa, dari Kereta perang Basukarno seolah keluar komet bercahaya putih menyilaukan secepat kilat melesat.
Di angkasa….Kalabendono yang sudah siaga menunggu tunggangan, dengan sigap menumpang ke senjata Kunta. Senjata kunta dan Kalabendono, menghujam ke dada Gatotkaca, membelah jantung Sang Satria Pringgandani. Dalam sekaratnya, Gatotkaca berucap ”Aku mau mati kalau dengan musuh ku….”. Seperti bintang jatuh yang mencari sasaran, jatuhnya badan Gatotkaca tidak lah tegak lurus ke bawah, namun mengarah dan menghujam ke kereta perang Basukarno. Basukarno bukanlah prajurit yang baru belajar olah kanuragan setahun dua tahun. Dengan keprigelan dan kegesitannya, sebelum jasad Gatotkaca menghujam keretanya dia melompat seperti belalang menghindar dari sergapan pemangsa.
Jasad gatotkaca menimpa kereta, Keretapun hancur lebur, pun delapan kuda dengan kusirnya tewas dengan jasad tidak lagi bebentuk. Selesailah episode Gatotkaca dengan perantaraan Uwaknya, Adipati Karno Basuseno.
Gugurnya Gatotkaca menjadi berita gembira di kubu kurawa. Para prajurit bersorak sorai mengelu – elukan sang Adipati Karno. Kepercayaan diri mereka berlipat, semangat perang mereka meningkat. Keyakinan diri bertambah akan memenangi perang dunia besar yang ke empat ini.
Sebaliknya, kesedihan mendalam tergambar di kubu Pandawa. Wrekudara hampir – hampir tidak mampu menguasai diri ”Gatot…, jangan kamu yang mati biar aku saja bapakmu…Hmmm Karno…..!!! beranimu hanya dengan anak kemarin sore..Ayo lawanlah Bapaknya ini kalau kamu memang lelaki sejati…!”. Arimbi, sang ibu, tidak kuasa menahan emosi. Selagi para pandawa meratapi dan merawat jasad Gatotkaca, Arimbi menceburkan ke perapian membara yang rupanya telah disiapkannya. Sudah menjadi tekatnya jika nanti anak kesayangannya mati sebelum kepergiannya ke alam kelanggengan, dia akan nglayu membakar diri. Dan itu dilakukannya sekarang.
Pandawa, dengan demikian kehilangan dua keluarga dekat sekaligus di malam menjelang fajar ini. Wrekudara kehilangan anak tersayang dan istri tercintanya. Namun keturunan tidaklah terputus, karena baik Antareja maupun Gatotkaca telah mempunyai anak laki – laki sebagai penerus generasi Wrekudara.
Fajar menjelang, jenazah Gatotkaca dan abu Arimbi telah selesai diupakarti sesuai dengan ageman dan keyakinan mereka. Sri Kresna sudah bisa menenangkan Wrekudara dan para pandawa yang lain. Sekarang saatnya mengatur strategi. Tugas harus dilanjutkan. Pekerjaan harus diselesaikan, perang harus dituntaskan. Dunia akan segera mengetahui, gunjingan dunia mengenai perang besar antar dua saudara kembar akan segera terjadi siang ini.
Wisanggeni
Wisanggeni adalah cucu Bathara Brahma. Wisanggeni terlahir premature karena ketika masih dalam kandungan ibunya disiksa oleh Batari Durga. Batari Durga tidak menginginkan kelahiran anak Dresnala dari Arjuna. Batari Durga menginginkan Dresnala menikah dengan Dewa Srani.
Wisanggeni adalah seorang pemuda yang tampan, cerdas, jenius, sakti dan berani. Kesaktiannya tidak mempan segala senjata. Wisanggeni selalu ngoko (tidak berbicara halus) kepada siapa pun, termasuk kepada Sanghyang Wenang.
Arti nama Wisanggeni berasal dari kata “Wisa” dan “Geni”. Wisa berarti bisa yang beracun, dan Geni berarti api. Nama yang luar biasa, sanggup membakar angkara murka tidak memandang orang tua, teman, apalagi musuh. Melihat kharakter Wisanggeni sebenarnya adalah melihat sebuah proses bangkitnya semangat yang berapi-api dan siap membakar. Ketika pada masa kelahirannya sudah ditempa dengan berbagai ujian di Kawah Candradimuka.
Seperti ketika Ibrahim/Abraham dibakar dalam api karena mempertahankan keyakinannya. Kawah Candradimuka sifat dasarnya adalah menghancurkan apa saja yang dimasukkan, tetapi ketika yang dimasukkan adalah seorang calon ksatria yang tangguh maka sifat menghancurkan ini menjadi luruh menjadi sifat menempa. Seperti besi ketika disepuh, dipanaskan hingga menjadi bara, kemudian dimasukkan ke dalam air. Proses perubahan suhu yang cepat ini malah manjadikan besi lebih kuat.
Bayi dalam tempaan Kawah Candradimuka kemudian diberi nama Wisanggeni. Wisa dan Geni. Pemuda harus “diracuni”, dalam arti diberikan pemahaman dasar tentang sikap keutamaan, kebaikan dan kebenaran. Sifat-sifat itu harus terpatri dalam hati, dan mengalir dalam darah seperti racun yang menyebar dengan cepat. Racun-racun inilah yang kemudian melekat pada tubuh yang kuat, akhirnya akan menjadi kebal terhadap segala racun-racun lainnya. Sehingga dalam zaman apa pun, dalam kondisi apa pun, mampu menahan segala racun kebobrokan, kebathilan dan katamakan.
Selanjutnya ketika kekuatan sudah terpatri dalam segala gerak, timbullah pergerakan yang masif, pergesekan, memanas dan membakar, jadilah “geni”.
Geni dalam arti semangat dalam pergerakan adalah api yang membakar segala angkara murka, menahan segala gerak kemunafikan. Geni dalam artian menganjurkan kebaikan dan mencegah kemungkaran. Disinilah muncul sifat Kawah Candradimuka yang akan mempreteli segala bentuk kebobrokan pemikiran yang merasuk dalam jiwa-jiwa pemuda. Dalam puncak-puncak pergerakan inilah, maka pemuda Wisanggeni digambarkan bisa terbang, bisa berjalan secepat angin, dan bisa masuk ke dalam bumi.
Begitulah Wisanggeni dibentuk.
Di sisi lain, memang harus ditumbuhkan kesadaran, sifat Wisa dan Geni sering dalam semangat yang melebihi zamannya, sehingga juga dianggap tidak sesuai dengan keadaaan. Sifat ini digambarkan dalam cara bicara wisanggeni yang “nungkak kromo”. Seperti dalam beberapa lakon carangan dikisahkan, Wisanggeni berangkat sendiri ke Astina untuk meminta Kurawa mengembalikan tahta kepada pepunden Pandawa. Tanpa pasukan, tanpa Kresna, tanpa Pandawa, sendiri.
“Wa Duryudana, aku njaluk baline negeri Astina saiki Wa, Siwa tetep manggon neng kene, nanging punjering paprentahan bali menyang tangane Pandawa. Dadi baline Astina tanpa dredah perang (Paman Duryudana, aku minta kembali Negara Astina. Paman tetap disini, tetapi pemerintahan dikembalikan kepada Pandawa. Jadi kembalinya Astina tanpa peperangan) , ” begitulah Wisanggeni dengan lugas menyatakan kebenaran kepada Duryudana atas hak kembalinya Astina kepada Pandawa.
Begitulah pemuda, begitu mengatahui dasar kebenaran, selalu “to the point”.
Hanya satu kata, harap maklum bahwa ini yang bicara adalah “Wisa” dan “Geni” yang bersatu untuk kebangkitan dalam keyakinan kebenaran hakiki.
Srikandi Panglima Perang di Kurusetra
(Zzzz!)
MARKAS RANDUGUMBALA, AMARTA.–Pasukan Multinasional Wirata tumpas-kandas di neraka Kurusetra. Matswapati, Presiden Wirata, geram-dendam! Tapi apa daya, ia jago tua. Demi jaga wibawa, ia gegas-bablas menuju markas. Pandawa sedang mengadakan rapat-kilat.
DARMAKUSUMA: Para Pembesar Pandawa–kita perlu menyusun strategi dan mengangkat panglima baru demi menandingi pasukan Multimodern Kurawa yang dipimpin Jendral Bisma. Begitu kan, Jendral Kresna?
KRESNA: Benar! Kiranya tiada yang mampu menggempur-hancur Jendral Bisma kecuali Kolonel Srikandi. Kelemahan panglima itu ada di tangan wanita. Nah, apakah Jendral Arjuna tak keberatan?
ARJUNA: Tidak! Tapi apa tak salah-angkat? Amarta masih banyak memiliki perwira tinggi. Kenapa memilih wanita untuk menjabat panglima?
KRESNA: Memang, Jendral Arjuna–tapi kita perlu cara lain. Amarta kalah karena terlalu mengandalkan strategi dan teknologi tempur. Padahal strategi dan teknologi tempur Jendral Bisma jauh lebih tangguh-ampuh tanpa kelemahan sama sekali. Satu-satunya cara untuk menemukan kelemahan Jendral Bisma hanyalah dengan meneliti biografinya, teristimewa dalam “Kisah Dewi Amba”. Di situlah terletak tragic aspect manusia Bisma. Dan wanita lebih mampu menguasai kekuatan makna-batin kisah itu.
BIMA: Waaah, gak nalar! Mana bisa sastra dijadikan tandingan teori-strategi perang!
NAKULA: Kenapa tidak? Jika diambil secara tepat dan jitu, inspirasi bisa lebih hebat-dahsyat daripada teori maupun strategi.
SADEWA: Mungkin! Lagipula negeri ini anti diskriminasi. Divisi Sawojajar setuju terhadap pengangkatan panglima wanita.
BIMA: Baik! Divisi Jodipati juga setuju!
DARMAKUSUMA: Saya harap permusyawaratan mencapai mufakat-bulat. Sebab tanpa kemufakatan, mana bisa terlaksana kesatuan tindakan. Dan bagaimana menurut Ki Lurah Semar?
“Sip, Mo. Usulkan aku jadi panglima.”
“Huh, sok aje lu, Kang!”
“Demi bela-bakti lho, Truk.”
“Bela-bakti atau pangkat?”
“Jadi hansip aja gak becus!”
“Sok pahlawan!”
“Sssh, usah ribut, Le!”
“Ya, Mo!”
SEMAR: Matur nuwun, saya percaya pada kebijakan-kebajikan para pemimpin. Ya, monggo kerso sajalah.
“Payah! Gak nyuaraken nurani rakyat.”
“Sst! Loyalitas, Kang!”
“Eh, suara apa, Truk?”
“Bagong ngorok–”
“Dwasar!”
“Diam, Le!”
DARMAKUSUMA: Terima kasih, Ki Lurah. Baiklah, tampaknya kita sepakat untuk mengangkat Kolonel Srikandi menjabat panglima. Dan rapat selesai.
(Tok! Tok! Tok!)
“Excuse me, Sir. Can you tell me about–”
“No! Scat!”
“Op de rekord, Mistuh!”
“Siapa sih, Gong?”
“Isuis-luar, nyasar!”
“He-he, yo-ah ke garis depan!”
(Kriiing… klek!)–”Hello, siapa?… O, Mas Gatot… Di sini Sri! Ada berita penting?… Oke, Brigade Jane d’Ark Madukara siap menuju Kurusetra!… Ya, Merdeka!”–(Klek!)
Mabuk, usah sibuk
Mabuk, usah sibuk
Mabuk, usah sibuk
MARKAS BULUPITU, ASTINA.–Kurawa berpestaria merayakan kemenangannya. Minum-minum sampai ambruk-mabuk! Anak muda bilang: “Teller!” Melihat anak-buahnya jatuh-disiplin begitu rupa, Jendral Bisma kecewa-berat. Memang, kemenangan bisa memabukkan!
“O ciu kehidupan!”
(Gluk! Gluk!)–”Aahh….”
“Vodka. O dansa Mazurka!”
(Pluf!)–”Minum, Dur! Selamat–” (Ting!)
“O Mbodrooo-mBodro, sini, Yang… esok Arjuna kan kupanggang! K-kau k-kan k-kuberi s-suaka… hooeekh!”
CITRAYUDA: Huh! Mabuk-kampungan!
DURSASANA: Lempar aja ke got, biar minum comberan!
DURMAGATI: Eh, zangan–kazihan! Kazih racun aza zekaliguz biar mampuz!
“Oh, Rukma, k-kau m-mati? B-biarlah, k-kau pahlawan yang ter–”
“Konyol!”
Jendral Bisma keluar dari markas. Ia tak tahan melihat kondisi pasukan! Apa artinya kemutakhiran strategi dan teknologi perang jika para serdadu jatuh-lumpuh mati-disiplin? Sia-sia!
“Ada apa, Pral?”
“Lapor! Pandawa memberi upeti wanita!”
“Lho! Aziiik!”
“Cihuy, yuk ah ke Kurusetra!”
(Prok! Prok! Prok!)–”Hey Dur, Cit, Karta! Ayo ke front!”
BISMA: Hai pasukan! Buang botol-botol setan itu! Pandawa menyerbu!
“S-siaaap!”
BISMA: Apa boleh buat! Pasukan-mabuk ini terpaksa kugiring ke medan tempur.
Mabuk-tempur!
Babak-belur!
Do not weep
War is kind
“Gue mau liat perang, Tante.”
“Jangan, Sanjaya! Entar kena rudal nyasar!”
“Enggak, Tante Kunti–ada kelir Anti Nuklir.”
“Ngaco! Papi marah lho!”
“Biarin, yo-ah, Tante.”
“Widura! Widura! Anakmu nekat minggat ke Kurusetra!”
“Biar, Mbakyu. Siapa tau jadi wartawan perang?”
KURUSETRA.–Pinggiran!
“Nonton di sini aja.”
“Iya deh!”
Tam-tratamtam-tam-tam!
Bass drum berdentam!
“Hidup Bisma! Hidup Kurawa!”
“Hinup Ngurawa! Ngemarin angu mengang naruhan nerong– hinup Muna Nerong!”
“Gong, kepruk-remuk aja tuh botoh Kurawa!”
“Plintheng ae, Truk!”
“Ini batunya.”
(Cpret!)–”Hinup–(Plethak!)–anuh! Menyut ngunulngu!”
“He-he-he…!”
“Rokok-rokok, premen Menthos, tisu Getsby! Tisu, Oom–anti-hamil?”
“Gak gah!”
“Ese es! Es berasap!”
“Koran-koran! Berita panas–KURUSERTA MEMBARA. Tempur konyol di Kurusetra, ya, koran-koran!”
“Teloor, telor manis!”
(Jreng!)–”Ya, Sodara-sodara, met jumpa dan izinkanlah menghibur Anda!”–(Jreng!)
“Maaas, paring kula nyuwun, eMaaas!”–(Klotrak!)
(Cplek!)–”Sip! Gue jagoin Pandawa! Apa taruhannya?”
“Bojoku!”
“Ngapain! Tuwek-jelek!”
“Ngece-kere!”
(Tet-treteeet!)
“Ngentut, Oom?”
“Terompet bego!”
“Brengsek! Pindah ah!”
“Jeile itu barisan cewek–mau perang apa renang?”
“Sst! Tempur di kasur!”
“Hush! Ngawur!”
Dalam pada itu Brigade Jane d’Ark Madukara menjebol-ambrol pasukan Kurawa. Dan konyolnya, serdadu Kurawa menyambut serangan itu persis seperti sama istri.
“O, come, Darling!”
“Darling-darling nje–(Dor!)–gundulmu!”
“Eladalah! Teja-teja sulaksana, tejanira wong anyar katon, ing wingking pundi pinoko, ing ngajeng–”
(Dor!)–”Kesuwen!”
“Habisin aja, Non! Perang kok pake basa-basi kuno!”
SRIKANDI: Bisma, terimalah saat-tepat buat tamat riwayat!
“Awal, Jendral!”–(Dor!)
BISMA: Aaakkkhhh!
“Hooorrreee! Bisma gugur!”
“Hidup Panglima Wanita!”
Ki Harsono Siswocarito
Bima NGAJI
Ternyata harta dan kedudukannya tidak bisa menjamin kepuasan hidupnya, lalu sebenarnya apa yang ia cari di dunia ini.
Rupanya si Bima sena menginginkan kebahagiaan yang hakiki, akhirnya ia pergi ke seorang dukun di daerah Padepokan Sukalima untuk berguru kepada Pendita Durna charya.
Setelah Bima mengutarakan maksudnya lalu Durna mengajak Bima keluar ke halaman rumah. Bima bertanya : “kena apa tidak di dalam saja” Durna menjawab ” didalam gelap, kalau diluar lebih terang”.
Begini Bima….
Untuk mencapai kebahagiaan hidup ada 2 (dua) syarat yang harus dipenuhi:
1. Harus bisa mendapatkan kayu Gong susuhing angin yang adanya di hutan lereng gunung Condromuko.
2. Harus minum “tirta prawito sari” (air mineral penyejukrasa) yang berada di dasar samudra.
Singkat cerita penonton . . . . .,
Dengan susah payah sang Bima bahkan hampir mati diterkam binatang buas di hutan belantara, dan ternyata “susuh angin” bukan berada di hutan melainkan berada didalam hati, maksudnya semua tujuan/ keinginan bergantung pada kebulatan tekad dan bagaimana niatnya.
Dengan kebulatan tekadnya dan niat sungguhan sang Bima menuju tepian samudera untuk mencari syarat ke 2 yaitu mencari ” tirta prawito sari “.
Termangu sang bima di tepian samudera, desis angin dan gemuruh alunan ombak membuat Bima merinding (setengah takut).
Tiba-tiba terdengar suara dan muncul seorang anak bajang ( bocah kecil) yang wujudnya menyerupai dirinya memangil-manggil, mahluk apalagi ini…?, apakah mahluk ini akan membunuh diriku . .?, demikian prasangka Bima guna membangkitkan jiwa keperkasaannya.
Bocah bajang yang oleh kidalang disebut “Dewaruci” lalu bertanya kepada Bima
Lagi ngapain kamu Bima ..? ditempat sunyi sepi hanya terbentang samudra luas dengan ombaknya yang menjulang, dikelilingi hutan belantara serta gunung-gunung tinggi, disini tidak ada apa-apa, yang ada hanyalah malapetaka dan bencana, kepada siapa kau Bima jika ada binatang buas atau bahaya lain yang mengancammu.. .?
Bima nenjawab: Aku hendak nyebur kedasar laut mengambil air meneral yang sejuk segar, dan dengan kebulatan tekad serta niatkulah yang dapat mengalahkan segala rintangan.
Dewaruci: Komitmen saja belum cukup Bima. . . ., aku kasihan sekali melihat tingkahmu yang bego dan dungu, tahukan kau Bima bahwa pendita Durna itu menyesatkan, ia ingin mencelakakanmu, harapannya agar kurowo nantinya bisa menang dalam perang Mahabharata .
Bima : Ahh…..,tidak….., aku sudah kukuh pendiriannya, aku akan tetap patuh dan setia tuhu pada guruku.
Dewaruci : Jika demikian , cepatlah kau masuk dalam telinga kiriku, selama ini aku tidak pernah mendengar do’a do’a mu karena selalu sibuk dengan urusan bisnismu, siapa tahu dewo ruci dapat membantu agar segera terwujud keinginanmu.
Bima : Hai Dewo ruci. . . .bagai mana mungkin, kau hanya bocah bajang, sedangkan tubuhku tinggi besar, mana mungkin bisa masuk kedalam telingamu ?.
Dewaruci : Aduh Bima. . . .,harta dan kedudukanmu serta badanmu yang tinggi besar telah membuat dirimu menjadi sombong, coba kau renungkan:, tinggi mana tubuhmu dengan gunung yang diatasmu ?, lebar mana dadamu dengan samudra yang ada didepanmu ?, besar mana badan/tubuhmu dengan alam jagat ini?, tahukan kau Bima…..,ikan asin yang setiap hari dimakan kamu baru bayar upah nelayan dan minyak gorengnya , kamu belum membayar sama yang empunya, apalah arti dirimu jika dibanding dengan alam semesta beserta isinya ini.
Bima : Seketika Bima merasa kecil tubuhnya, bergetar hatinya, perasaan bersalah dan takutpun muncul dalam benaknya
Aduh Dewo ruci….., tiba-tiba penglihatanku menjadi gelap, aku tidak tahu lagi arah utara selatan, berat sekali cobaan hidup ini, aku bingung harus bagai mana..??
Dewaruci : sabarlah Bima . . .,.memang berat cobaan hidup ingatlah pesanku ini senantiasa:
jangan berangkat sebelum tahu tujuanmu, jangan menyuap sebelum mencicipnya, tahu hanya berawal dari bertanya, bisa berpangkal dari meniru, sesuatu terwujud hanya dari tindakan
janganlah bagai orang gunung membeli emas, baru mendapat besi kuning pun puas dikira emas bila tanpa dasar, bakti membuta pun akan bisa menyesatkan .
Bima : Aduh pukulun….,sebenarnya siapa diriku ini??, apa saja yang telah aku lakukan..? apa sebenarnya yang sedang aku cari, bunuh saja aku pukulun.
Dewaruci: Jangan sebut aku pukulun, siapa pukulun itu.?, aku ini Dewo ruci, aku ini adalah otak kirimu yang berada dialam bawah sadarmu yang tidak pernah/ jarang kau sentuh.
Aku adalah kamu, sehingga aku tahu persis siapa Bima, Bima adalah anak dari Dewi Kunti dan bapakmu Pandu sedangkan saudara-saudaramu satu ibu adalah Yudistira dan Arjuna, Nakula, Sadewo (dari ibu Madrim). Kau adalah hamba yang hidup & matimu, derajat, pangkat serta kedudukanmu hanyalah milik Allah swt
Nah sekarang coba buka mata hatimu, apa yang terlihat olehmu..?,.
Bima : Ya..ya..aku melihat warna kuning tapi tapi tapi kemudian hilang dan berganti warna biru, lalu hilang lagi eh eh muncul lagi warna hijau, merah, putih.
Dewaruci : Cukup Bima. . . .,sekarang keluarlah dari tubuhku, setelah Bima keluar kembali ke alam nyata terang benderang penglihatannya dan terbuka mata batinnya.
Dewaruci : Nah…Bima,
Ternyata tirta prawito sari tidak jauh, tidak perlu ke dasar laut atau ke luar negri tetapi berada dalam qolbumu sendiri.
Jika kau sudah bisa mengjaga hatimu hingga bisa “ngrasuk roso jati” kemuadian baru kau bisa kenal jati dirimu.
Tok….tok….crek….crek…nong….gong
Bima Suci
Lakon ini amat digemari di kalangan kasepuhan karena mengandung permenungan mendalam tentang asal dan tujuan hidup manusia (sangkan paraning dumadi) dan menjawab kerinduan hidup dalam perjalanan rohani orang jawa untuk bersatu dengan Tuhan (manunggaling kawulo Gusti; curiga manjing warangko).
Begitu disenangi dan diulang-ulang sebagai bahan permenungan, maka kisah ini memilik variasi-variasi bahkan menyimpang dari lakon awalnya, tergantung siapa yang menyalin kisah ini, siapa dalang yang memainkan lakon dalam pertunjukan wayang.
Poerbotjaroko, tahun 1940 menyelidiki variasi-variasi naskah dan menemukan kurang lebih 29 buah naskah Bima Suci. 19 buah naskah tersimpan di Universitas Leiden Belanda.
Dalam disertasinya untuk memperoleh gelar doctor tahun 1930, Prijohoetomo membandingkan dua kisah : Nawaruci dan Dewaruci. Kitab Nawaruci yang juga dikenal dengan nama Sang Hyang Tat-twajnana (kitab tentang hakekat hidup) ditulis oleh Empu Siwamurti (th. 1950-an) dengann latar belakang budaya Kerajaan Majapahit. Pada jaman itu mistik Islam mulai masuk dalam budaya Jawa, dan kisah Nawaruci digubah menjadi lakon Dewaruci (dengan dimasuki unsur-unsur Islam) dan dipentaskan dalam dunia perwayangan.
Alur ceritera Dewaruci/Bima Suci dipengaruhi oleh kisah Markandeya dari India. Di kisahkan Markandeya mengarungi kedalam samudera dan berjumpa dengan anak kecil. Anak kecil itu bernama Narayana, jelmaan dari Dewa Wisnu. Narayana meminta Markandeya masuk dalam tubuhnya untuk menyaksikan seluruh isi alam semesta. Dalam kisah ini tokoh Bima tidak ada.
Dari berbagai kisah Bima Suci yang bervariatif itu dapat ditemukan benang merahnya.
Alkisah, Bima atas perintah gurunya (Durno) mencari “Banyu Perwitasari”. Dalam perjalanan mencari air kehidupan, Bima menuju hutan Tikbrasara (berarti landeping cipta) yang terletak di gunung ReksaMuka (yang artinya Mata). Di hutan ini Bima dihadang oleh dua raksasa Rukmuka (berarti kamukten) dan Rukmokala (yang berarti Kamulyan). Bima mampu mengalahkan ke dua raksasa itu.
Untuk memperoleh “inti sari pengetahuan sejati” (Perwitasari), Bima harus melalui samadi (yang dilambang dengan hutan Tibaksara dan gunung Reksomuka =Mata/pemahaman yang mendalam). Bima tidak bisa mencapai titik penyatuan mata batin dalam samadi kalau tidak ‘membunuh’ pikiran tentang kamukten dan kamulyan.
Kisah selanjutnya, Bima tahu bahwa air ‘perwitasari’ tidak terletak di hutan Tikbrasara yang ada di gunung Reksamuka, tetapi di dasar samudera. Maka perjalanan dilanjutkan ke dasar samudra (samudra pangaksama=pengampunan). Dalam samudra bertarung dengan naga (symbol kejahatan/keburukan) dan Bima berhasil membunuhnya.
Untuk memperoleh air perwitasari tidak cukup dengan membuang kamukten dan kamulyan tetapi harus juga berani mengampuni kepada orang-orang yang bersalah dan membunuh kejahatan yang ada dalam dirinya (masuk samudra pengampunan dan membunuh naga kejahatan).
Setelah melampaui berbagai rintangan, akhirnya Bima ketemu Dewaruci, yang persis dengan dirinya namun dalam ukuran kecil. Bima masuk ke badan Dewaruci melalui telinga kanan dan di dalam diri Dewaruci, Bima melihat seluruh isi semesta alam.
Bima dengan samadi secara benar : menutup mata, mengatur nafas, konsentrasi dengan pikiran dan perasaan yang bersih (Cipta Hening). Dalam samadi ini, Bima menerima Terang atau wahyu sejati dalam samadi: “manunggaling kawula gusti”, kesatuan manusia dengan Tuhan. Dalam jati diri terdalam, manusia bersatu dengan Tuhan. Kemanunggalan ini yang menjadikan manusia mampu melihat hidup yang sejati. Dalam istilah kejawen: Mati sakjroning urip, urip sakjroning mati. Inilah perjalanan rohani untuk masuk dalam “samudera menanging kalbu”.
Selasa, 27 Maret 2012
Pandawa Lima Lan Drupadi
Pandawa Lima Lan Drupadi Dalam hidup cobalah untuk bersabar dalam menghadapi cobaan Ilahi. Jagalah mulut dari perkataan nista yang bisa mengakibatkan celakanya diri sendiri maupun orang lain. Janganlah serakah ketika menerima nikmat Ilahi. Jangan pernah takabur dengan kemampuan yang dikaruniakan pada diri kita. Jangan selalu merasa bisa, tetapi selalulah bisa merasa. Kalo bahasa latinnya, bisoo rumongso, ojo rumongso biso. Supaya kita ora dumeh dengan apa yang telah kita miliki.
Langganan:
Postingan (Atom)






