Jumat, 14 Desember 2007

Hari Anti Korupsi Sedunia

Tahu atau Pura-Pura Tidak Tahu?

PONTIANAK—Hari Anti Korupsi Sedunia yang diperingati setiap tanggal 9 Desember sepertinya belum begitu memasyarakat. Di Kota Pontianak, momentum itu hanya diperingati dengan pemasangan spanduk, tanpa disertai aksi yang ‘menggigit’. Ini membuktikan bahwa masyarakat telah menganggap aksi pemberantasan korupsi hanya lips service semata.

Kegundahan ini disampaikan Prof. DR. Hj Redatin Parwadi, MA, pakar ilmu Koruptologi dari Fisip Untan, ketika menyikapi potret buram pemberantasan korupsi di Kalbar. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Transparency International Indonesia (TII), katanya, institusi kepolisian, parlemen, lembaga peradilan serta partai politik menduduki peringkat teratas sebagai lembaga terkorup di Indonesia.

Fakta ini menurut Redatin merupakan hal yang amat memprihatinkan. Lembaga yang seharusnya bersikukuh memberantas praktik korupsi ternyata diam-diam malah melakukannya. “Saya menilai saat ini masyarakat kita tengah dilanda krisis kepercayaan. Lembaga-lembaga yang dipercaya mampu membongar praktik busuk korupsi ternyata malah menghianati amanah yang diberikan rakyat,” ujarnya kepada Pontianak Post, Selasa (11/12) kemarin.

Akibat tergerusnya rasa kepercayaan rakyat tersebut, korupsi terasa semakin merajalela. Sebagian kalangan melihat korupsi sebagai praktik ‘pelacuran’. Disebut demikian karena semua pihak sama-sama merasakan kenikmatan. Korupsi juga diidentikkan dengan segerombolan tikus-tikus berdasi yang sangat licik dan licin. Jerat hukum yang disediakan ternyata mampu dihindari dengan sangat mudah.

Gambaran yang lebih mengerikan terhadap korupsi di dengan lukiskan dengan penyakit kanker akut. Penyakit ini terbilang sangat sulit disembuhkan karena telah mengakar hingga ke seluruh jaringan tubuh. Kalau sudah begini, masyarakat tentu beranggapan bahwa korupsi merupakan sebuah prilaku yang sulit untuk dihapuskan dari muka bumi.

Anggapan ini tidak selamanya benar. Redatin melihat bahwa korupsi sebenarnya bisa diberantas apabila semua pihak mau berkomitmen. Lewat ketegasan sikap yang dibentuk, korupsi pasti bisa diberantas. Caranya cukup sederhana, yakni tanamkan sedini mungkin perinsip hidup jujur. “Mulailah dari lingkungan terkecil, seperti keluarga, kemudian meluas ke lingkungan hidup kemasyarakatan serta lingkungan kantor,” terang alumnus S3 Pascasarjana UGM Yogyakarta tahun 2002 ini.(go)

1 komentar:

Kupang mengatakan...

Dear Sir;

Very interesting and nice picture to.I am looking for picture iof all the prsent rajas/dynastychiefs of Kalbar.Can you help me.
Soon I am going to restart my website about the present situation of the Indonesian dynasties.It will be called Kingdoms of Indonesia(Kerajaan Indonesia)..
Thank you for all.

Hormat saya:
DP Tick gRMK
secretary Pusat Dokumentasi Kerajaan2 di Indonesia "Pusaka"
Vlaardingen/Holland