Senin, 17 Desember 2007

Dari Seminar Bahasa Indonesia


Mengkaji Penerapan Bahasa dalam Media Massa

Diera sebelum kemerdekaan, bahasa Indonesia merupakan simbol dari jati diri bangsa. Penghargaan ini terlihat dari dijadikannya bahasa Indoensia sebagai alat pemersatu dari berbagai kelompok etnis ke dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Seiring dengan perkembangan jaman, bahasa Indonesia kemudian dijadikan sebagai bahasa negara. Selain digunakan sebagai bahasa pengantar sehar-hari, bahasa Indonesia pun digunakan pula sebagai bahasa media massa. Seperti apa penerapannya?
Catatan Pringgo—Pontianak

Media masa memang sangat memegang perna penting dalam usaha mencerdaskan kehidupan bangsa. Lewat pemberitaan yang berimbang, lugas lagi terpercaya, media massa seolah menjadi wahana pemuas dahaga akan informasi bagi masyarakat. Sadar akan arti penting dari media massa tersebut, Pusat Studi Bahasa dan Masyarakat Borneo (PSBMB) bekerjasama dengan sejumlah organisasi pengkajian bahasa di Kalimantan Barat, Sabtu (15/12) lalu menggelar seminar terbuka mengenai Bahasa dalam Media Massa, di Kantor Pusat Bahasa Kalbar, Pontianak.

Seminar sehari ini digelar dalam dua sesi. Sesi pertama menampilkan enam pemateri yang dipanelkan. Mereka adalah Marluwi (Dosen STAIN Pontianak), Martina, Dewi Juliastuti, Yeni Yulianty. Ketiganya peneliti pada Pusat Bahasa Kalbar. Kemudian AR Muzammil (Dekan III FKIP Untan), dan Yanti (LPM STAIN Pontianak).

Sesi kedua akan diisi oleh enam panelis. Lima di antaranya dari Pusat Bahasa: Dedy Ari Asfar, Ika Nilawati, Prima Duantika, Irmayani, dan Wahyu Damayanti. Kemudian Rudi Mariyati dari TK Islam Al Azhar. Sedangkan sesi ketiga akan menampilkan, Nur Iskandar (Pimred Borneo Tribune), Ambaryani (LPM STAIN Pontianak), Yusriadi (Peneliti PSBMB), Sudarsono dan Martono, keduanya dari FKIP Untan.

Marluwi, dosen STAIN Pontianak, dalam makalah singkatnnya yang berjudul Bahasa dan Wacana Media (Upaya memelihara Bahasa Indonesia) mengatakan bahasa adalah identitas, entitas dan sarana komunikasi. Dengan bahasa interaksi sosial dapat dilakukan. Dengan bahasa kita dapat diperkenalkan, memperkenalkan dalam keragaman atau heterogenitas. Hubungan manusia dengan bahasa dapat dilihat sebagai keutuhan tak terpisah. Bahasa berperan dan memiliki makna dalam kehidupan manusia.

Dalam melakukan interaksi sosial bahasa menjadi tumpuan dalam komunikasi antar sesama. Dalam konteks ini bahasa dapat diidentifikasi pada dua: bahasa lisan dan bahasa tulis. Bahasa lisan secara sederhana adalah bahasa tutur yang diekspresikan melalui indera mulut (baca: lisan). Sementara bahasa tulis diekspresikan melalui ranah pena, sebagaimana banyak dipahami melalui karya ilmiah. “Menariknya, keduanya sama-sama berfungsi perankan mediasi interaksi manusia dalam alam sosial. Baik itu bahasa lisan atau bahasa tulisan berfungsi sebagai sarana komunikasi,” terangnya.

Seperti Goenawan Mohamad katakan: “Bahasa adalah medium manusia berhubungan dengan, juga mengungkapkan ataupun menggunakan bahasa Indonesia, tetapi tidak sedikit dalam setiap kolom menggunakan bahasa atau istilah asing (bahasa Inggris) yang susah dipahami oleh masyarakat awam pada umumnya. Adanya interferensi bahasa asing tersebut dipandang mengacaukan penggunaan bahasa Indonesia yang sudah ada. Misalnya interferensi kosakata bahasa Inggris shock therapy dan door prize. Sebenarnya kosakata tersebut sudah ada padanannya dalam bahasa Indonesia masing-masing ‘terapi kejut’ dan ‘hadiah langsung’. Hal ini bisa dimaklumi mungkin diakibatkan karena para wartawan menguasai lebih dari satu bahasa. Penggunaan kosa kata atau istilah asing tersebut boleh digunakan, tetapi penggunaannya harus benar sesuai dengan kaidah yang berlaku. Tentunya diharapkan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam bentuk lisan maupun tulisan selalu kita kedepankan.

Kalimantan Barat memiliki khazanah kepelbagaian bahasa yang sangat tinggi. Kehidupan berbahasa masyarakatnya multilingual. Setiap daerah kabupaten di wilayah Kalimantan Barat memiliki bermacam-macam varian bahasa lokal yang khas. Bahasa-bahasa lokal ini memainkan peran penting sebagai bahasa lingua franca di kalangan intraetnik tempat bahasa tersebut dituturkan. Khazanah kekayaan lokal ini jarang terdokumentasikan dalam bentuk korpus data yang dapat diakses dengan mudah dan cepat.

Sadar akan kondisi yang demikian, Dedy Ari Asfar dari Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Barat mengatakan korpus data sangat penting sebagai salah satu usaha melestarikan bahasa lokal yang ada di Kalimantan Barat. Dalam tulisan singkatnya yang berjudul ‘Membina Korpus Data Bahasa Daerah dalam Media Cetak’, Dedy menilai dengan adanya korpus data bahasa daerah, dapat digali struktur bahasa lokal tersebut oleh peminat bahasa daerah. “Selain itu, korpus data bahasa daerah dapat dijadikan bahan untuk memperkaya kosakata bahasa Indonesia dan media pengajaran muatan lokal di sekolah,” ungkapnya.

Oleh karena itu, mengembangkan dan membina korpus data bahasa daerah di dalam media cetak pada satu kolom khusus bermanfaat untuk pendokumentasian dan pelestarian bahasa daerah secara berkelanjutan. Bahkan media cetak menjadi pusat rujukan dan pangkalan data korpus bahasa daerah yang bisa diakses dan dibaca dengan cepat oleh khalayak ramai

Bahasa Sastra dalam Koran
Dalam khayalan atau kenyataan, sang Pencipta melakukan ‘dialog’ yang tidak pernah tanpa tujuan dengan public—lawan bicara (bahwa jika publik itu terkadang dirinya sendiri) serta memiliki keindahan yang membuat orang betah membaca. Hal ini tertuang jelas dalam tulisan Yeni Yulianti dari Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Barat.

Dijelaskan Yeni, dalam pemberitaan media massa--terutama media cetak yang berupa harian--penggunaan bahasa sastra masih kurang populer. Media tersebut lebih sering menggunakan jenis straight news dengan bahasa yang bercirikan lugas, jelas dan tepat sasaran. Hal ini sesuai dengan perkembangan zaman yang menuntut setiap orang untuk mendapatkan informasi secepatnya.

Namun, bahasa straight news memiliki kekurangan, yaitu lebih cenderung datar dan monoton. Selain itu, aturan-aturan dalam bahasa straight news juga membatasi penulis/wartawan untuk mengembangkan beritanya secara lebih dalam. “Penulis tidak leluasa untuk menuliskan deskripsi kejadian secara detail, maupun menggambarkan emosi para pelaku dalam sebuah peristiwa,” ungkapnya.

Oleh sebab itu, penggunaan bahasa sastra dapat menjadi alternatif yang menjembatani persoalan-persoalan tersebut. Sebab, keluwesan bahasa sastra dapat membuat penulis menyampaikan informasi secara mendalam dengan menggambarkan detail kejadian, baik tempat, lingkungan, sampai pada emosi para pelaku. Sehingga, informasi dapat diterima dengan utuh, sebab pembaca dibuat seakan-akan berada ditempat kejadian dengan penulisan deskripsi yang detail.

Meski demikian, penggunaan bahasa sastra tidak bisa diterapkan pada semua berita dalam media harian. Sebab, berita yang menggunakan bahasa sastra cenderung lebih panjang. Hal ini penting untuk mempertimbangkan efektifitas penggunaan, dan jumlah halaman, sehingga mempengaruhi banyaknya berita yang dapat dimuat dalam harian tersebut. Oleh sebab itu, beberapa media harian, menggunakan bahasa sastra dalam berita tertentu saja, yakni berita yang menonjolkan sisi-sisi kemanusiaan. Karya jurnalistik dengan menggunakan bahasa pihak mana kita tidak mengerti. Tetapi secara hukum dinyatakan ruislag itu legal dan sah. Ini pegangan kita. Pemprov berkewajiban menyelamatkan ke-46 siswa ilegal yang dijadikan tameng oleh kelompok Nurlela.” Untuk menekan dan mendapat dukungan dari masyarakat, Sutiyoso menggunakan kata “tameng” (siswa sebagai tameng). Penggunaan tersebut jelas menuduh pihak Nurlela mengorbankan siswa. Masing-masing orang yang terlibat dalam konflik akan berusaha mempermalukan atau menghina lawan, tujuannya untuk mendiamkan atau menguasainya, dengan memberi komentar beberapa aspek dari penampilan atau masa lalu lawannya

Ideologi Dalam Wacana Berita di Koran
Koran merupakan sarana informasi (berita) untuk masyarakat. Informasi yang diasmpaikan wartawan sangat membantu pembaca memperoleh informasi. Informasi yang disampaikan berisi tentang sosial, agama, ekonomi, budaya, politik. Berita yang disampaikan menggunakan bahasa. Bahasa dalam pandangan analisis wacana kritis (AWK) dapat digunakan untuk memaksakan kehendak kepada orang lain.

Martono, dosen FKIP Untan Pontianak dalam tulisannya yang berjudul ‘Ideologi Dalam Wacana Berita di Koran’ menjelaskan ada keinginan untuk menanamkan ideologi kepada kelompok orang lain.

Oleh karena itu, analisis wacana kritis mempertimbangkan elemen kekuasaan (power). Setiap wacana yang muncul dalam bentuk teks, percakapan apapun, tidak dipandang sebagai sesuatu yang alamiah, wajar, dan netral, tetapi merupakan bentuk pertarungan kekuasaan. Ingat kasus SMPN 56 Melawai Jakarta! Wacana ruislag SMPN 56 Melawai Jakarta terdapat silang pendapat antara pemerintah provinsi DKI (penguasa) dengan pihak Nurlela (guru) yang mempertahankan sekolah tidak dipindahkan.

Dalam upaya memenangkan penerimaan publik, masing-masing menggunakan kosakata sendiri dan berusaha memaksa agar ideologinya diterima masyarakat. Pernyataan Sutiyoso, “kita tidak mencari menang atau kalah. Nurlela memperjuangkan suatu berita. Salah satu unsur kalimat efektif adalah penghematan yang terdiri atas penghilangan bentuk ganda dan penghematan dalam penggunaan kata.

Penggunaan kata bersinonim seperti kata adalah dan merupakan, agar dan supaya, serta hanya dan saja di dalam suatu kalimat merupakan kalimat yang tidak efektif. Hal tersebut dikarenakan penggunaan kata bersinonim dalam suatu kalimat merupakan pemubaziran kata. Tiap-tiap unsur pada pasangan kata bersinonim tersebut mempunyai arti dan fungsi yang hampir sama di dalam sebuah kalimat. Penghematan penggunaan kata berkaitan dengan makna jamak.

Di dalam bahasa Indonesia tidak dikenal bentuk jamak atau tunggal secara tata bahasa. Untuk menyatakan makna jamak, antara lain, dapat dilakukan pengulangan atau penambahan kata yang menyatakan makna jamak seperti para, beberapa, sejumlah, banyak, atau segala. Dalam surat kabar masih ditemukan penggunaan bentuk jamak dengan pengulangan atau penambahan kata yang dilakukan secara bersamaan seperti beberapa rumah-rumah yang membuat suatu kalimat menjadi tidak efektif

Berbahasa Yang Baik dan Benar Sejak Usia Dini
Bahasa menjadi komponen utama dalam proses komunikasi manusia, bahkan makhluk lainnya. Sedangkan komunikasi juga merupakan unsur yang sangat penting dalam proses kehidupan manusia, bahkan makhluk lainnya. Bahasa mencerminkan bangsa, demikian kata pepatah. Hal itu mengindikasikan bahwa demikian strategis fungsi bahasa dalam tatanan berkehidupan, khususnya berbangsa dan bernegara. Bahasa ditunjukkan oleh seorang penutur bahasa.

Dalam tulisan Rudi Maryati, Guru TK Islam Al-Azhar 21 Pontianak, berjudul ‘Berbahasa Yang Baik dan Benar Sejak Usia Dini’ menerangkan untuk menjadi seorang penutur bahasa yang baik tentu ia perlu mengindahkan unsur-unsur berbahasa yang baik dan benar. Dan untuk seorang penutur yang baik, ia perlu memelihara pemakaian bahasanya dalan kaidah yang baik dan benar. Bahkan untuk seseorang yang mampu berbahasa secara efektif diperlukan serangkaian mata rantai yang panjang sejak seseorang tersebut berada di bangku sekolah awal. “Di sinilah dibutuhkan peran pendidik bahasa yang menguasai teknik pengajaran berbahasa yang baik dan benar,” tegasnya.

Sejak usia dini seseorang telah mampu diberikan masukan pendidikan proses berbahasa yang baik dan benar. Seiring dengan waktu, proses pemeliharaan bahasa bukanlah materi pendidikan yang teory ansih atau murni teori. Namun melalui proses mendengar, menjawab, berpendapat dan menirukan kata-kata baru membantu anak mulai mengenal bahasa yang baik.

Dalam tingkat struktural di lingkup keluarga dan sekolah disebutkan agama buruk akibatnya dan tidak akan membantu dukungan. Bagi calon ini prigram jauh lebih penting dan lebih menarik. Sebagai ruang bagi public media menyediakan diri menampung isu tersebut, baik dari sudut penerimaan maupun penghujatan. Makalah ini membahas kedudukan media massa di Kalimantan Barat dalam promosi dan menolak isu etnisitas dan agama di Kalimantan Barat. Tiga media utama di Kalbar dijadikan sebagai perbandingan, yaitu Pontianak Post sebagai media utama yang dikenal softly, Harian Equator sebagai pembanding yang dikenal ‘lugas’ dan Borneo Tribune sebagai media ‘alternatif’

Tidak ada komentar: